Jumat, 19 Agustus 2016

Pindah Alamat

sejak 2015, situs resmi Ternate Heritage Society pindah ke :

ternateheritage.com

selanjutnya, blogspot ini tidak akan diupdate lagi.
Informasi terkait Ternate Heritage Society dapat disma di situs baru tersebut.

Terimakasih.

Jumat, 20 Februari 2015

Selamat Jalan Jo Ou Sultan Ternate





Naskah & Foto : Fadriani
Editor: Maulana

Kamis, 29 Rabiul Akhir 1436 H bertepatan dengan 19 Februari 2015 M, Sesaat setelah mendapat kabar mangkatnya Sultan Ternate ke-48; H. Mudaffar Syah, saya pun bergegas mencari info terkait berita tersebut dengan mendatangi langsung Kadaton Sultan. Memasuki gerbang depan, suasana terlihat sepi, hanya ada penjaga dan beberapa pengunjung yang terlihat melintas. Lamat-lamat terdengar suara orang berbicara melalui pengeras suara yang berasal dari pendopo kesultanan. Di sana telah ramai orang dengan khusyuknya melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an. Di tengah pendopo ada beberapa perempuan yang sedang sibuk merapikan sisi-sisi kain putih sebagai sekat pada tandu yang akan mengarak Sultan nantinya. Di kursi kayu berukiran khas yang berderet sejajar sekitar belasan jumlahnya, tampak beberapa pemuka adat juga petinggi pemerintah daerah yang duduk di sana mendampingi seorang ustadz muda yang terlihat khusyu memimpin pengajian. Beberapa di antaranya pernah saya lihat terpajang wajahnya di surat kabar, yang lainnya murni hasil tebakan dari pakaian yang mereka kenakan. Selesai pengajian, diumumkan bahwa Jenazah Sultan diperkirakan tiba di Ternate pukul 5 sore menggunakan pesawat Sriwijaya Air dan rencananya akan disemayamkan sekaligus disholatkan di masjid kesultanan sebelum nantinya dikubur di area pekuburan masjid. Sultan Ternate meninggal dunia pada kamis dini hari, 19 Februari 2015 di rumah sakit pondok indah, Jakarta, pukul 01.35 WIB, setelah dirawat beberapa hari semenjak sakit yang sudah dialami beberapa bulan belakangan.

Pukul 16.30 WIT, ribuan warga telah berkumpul memadati area kedaton Mulai dari anak bayi yang masih dalam gendongan sampai kakek tua yang berdiripun harus dibopong. Kontras dengan suasana pagi tadi yang masih terlihat sepi. Ada sebagian yang merupakan warga disekitaran kedaton, namun tak sedikit pula yang harus menyeberang dari pulau tetangga. “Biar tong tunggu dari pagi me tara apa-apa. Yang penting bisa lia pe jo Ou” ungkap seorang nenek berkebaya putih lusuh yang duduk selonjoran di depan gerbang kedaton ketika ditanyakan sejak jam berapa ia menunggu di tempat ini. Ia jauh-jauh datang dari pulau Hiri hanya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Jo Ou (Jo: Tuan, Ou: Agung; yang dipertuan agung); sebutan mereka kepada sang Sultan yang telah di panggil KeharibaanNya.

Waktu telah menunjukkan pukul 18.30, Matahari mulai condong ke barat, sayup-sayup terdengar alunan ayat al-qur’an dari masjid sekitar pertanda sesaat lagi maghrib menjelang. Namun apa yang dinanti belum juga kelihatan. Antusiasme masih terlihat dengan semakin banyak berdatangan orang-orang memenuhi setiap ruas jalan. Tak ada celah sedikitpun bahkan untuk mempersilahkan iring-iringan melewati jalan menuju kedaton. Puluhan bahkan mungkin ratusan petugas keamanan mencoba menertibkan warga yang mulai terlihat gelisah. Detik-detik berikutnya terasa begitu lambat hingga akhirnya saat gelap mulai menyelimuti pandangan, dari kejauhan tampak lampu sirine biru dengan suara meraung memecah keadaaan. Semua kamera siap dibidikkan… di bawah sana, sebagian besar warga telah bersiap dengan gadgetnya masing-masing dengan lampu kamera yang berkedap kedip. Setelah mobil polisi dengan sirine biru melintas,  orang-orang berpakaian adat berwarna merah kuning yang agak sulit dikenali (karena lampu jalanan yang hanya temaram) memenuhi jalanan yang tersisa, merekalah Bala kusu se kano-kano, abdi kesultanan Ternate. 

Pekikan kalimat talbiyah oleh rombongan tersebut spontan diikuti semua warga yang hadir menyaksikan, begitu khusyuk dan membuat hati berdesir. “Laa Ilaaha Illallaah” “Laa Ilaahaillallaah” “Laailaaha Illallaah” Kalimat ini diucapkan berulang-ulang, menggema menyentuh relung hati siapa saja yang mendengarkan. Tiba-tiba terdengar teriakan yang ditujukan ke arah kami yang sedari tadi berdiri di atas tugu Adipura. “Yang di atas turun samua!!! Tarada yang boleh lebe tinggi posisinya dari Sultan!! Turun!!!” Bentak beberapa orang dengan tatapan tajam menakutkan. Dalam kondisi seperti ini dan kami harus turun? Turun kemana?? Di bawah jalanan padat oleh warga yang berdesak-desakan. Sementara di depan sana sudah mulai terlihat tandu putih yang membawa jenazah sang Sultan. Pilihan cepat yang harus kami ambil adalah; turun dan berdesak-desakan dengan warga lainnya ataukah bertahan untuk tak melewatkan mengambil gambar terbaik yang mungkin melintasnya jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Dan kamipun memilih tetap bertahan dengan memposisikan badan lebih rendah dari Tandu yang melintas, sembari tangan tengadah memegang kamera dengan jepretan yang semakin liar. Begitu iring-iringan tandu semakin mendekat terdengar suara tangisan bersahutan di antara pekikan kalimat talbiyah yang tetap menggema. Allaahu Akbar…. Momen yang tak kan pernah dilupakan oleh siapapun yang hadir saat itu.

Jenazah Sultan yang tiba di bandara Sultan Baabullah sore itu, digotong oleh Bala kusu se kano-kano disertai iring-iringan dan sambutan masyarakat sepanjang jalan dari Bandara sampai ke Kadaton yang berjarak sekitar 5 Km.

Setelah iring-iringan memasuki Kadaton Sultan, semua warga pun bubar meninggalkan tempat, masih dengan perasaan haru yang berkecamuk. Ada wajah puas yang terpancar dari wajah mereka meskipun tak dielakkan raut kesedihan masih terpancar di sana. Masih ada prosesi penting yang harus mereka hadiri keesokan harinya, yaitu upacara pemakaman.

Jum’at, 20 Februari 2015

Pukul 08.30 pagi Prosesi pemakaman Sutan Ternate dimulai dengan Sholat Jenazah yang dilaksanakan di ruang utama kadaton disusul pembacaan riwayat hidup kemudian beberapa sambutan di antaranya oleh pihak keluarga, Sultan Tidore, Walikota Ternate, Wakil Gubernur Provinsi Maluku Utara tausiyah oleh mufti kesultanan, Habib Said Abubakar Alatas Ternate dan ditutup dengan pelantikan H. Arifin Madjid sebagai Kimalaha Marsaoli dan H. Zulkiram Hairuddin sebagai Jogugu oleh Munir Amal Tomagola selaku Kimalaha Tomagola, mewakili Bobato Adat Kesultanan Ternate (Plt. Sultan), dan memperkenalkan (sinonako) Bukhari Efendi Muhammad Djabir Sjah sebagai kapita lao (Panglima Laut, Putra Tertua Kapita Lao sebelumnya yang telah mangkat) yang sudah dilantik sebelumnya oleh Sultan

Di halaman depan kadaton, telah bersiap pasukan pengiring jenazah yang menggunakan pakaian adat kesultanan dengan warna yang berbeda-beda. Diantara mereka ada yang pengiring foto juga yang bertugas membawa nisan. Selain itu juga tampak warga memenuhi halaman kadaton seolah tak ingin ketinggalan peristiwa berharga dalam hidup merea juga keinginan untuk turut serta melepaskan kepergian sang Sultan menghadap Sang Khalik. Suasana mulai haru ketika pihak keluarga menyampaikan sepatah dua patah kata. Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang berkenan membantu segalanya di saat Sultan terbaring lemah dalam sakit hingga menjemput ajalnya. Juga permintaan maaf sekiranya dalam perjalanan hidup beliau terselip khilaf yang menggores hati siapapun termasuk rakyat beliau. Sampai di sini, suasana berganti haru. Tak ada yang mampu menahan gejolak di hati. Isak tangis memenuhi seisi kedaton meskipun terkesan berusaha ditahan agar tak sampai merusak suasana khidmat dalam acara tersebut. Terlihat beberapa orang dari pasukan pengiring jenazah yang mencoba menghapus air mata yang tak sanggup mereka bendung.

Pada kesempatan sambutan oleh Sultan Tidore, beliau menitipkan pesan terkhusus kepada semua anak-anak Sultan untuk tetap menjaga sholat juga amal perbuatan lainnya dengan demikian ayah mereka, Sultan Ternate bisa diberikan kelapangan di alam kuburnya. Do’a anak-anak Shalehlah yang akan memudahkan sang ayah menghadap RabbNya. Demikian pesan Sultan Tidore.  Suasana haru juga mulai terasa begitu mufti kesultanan menyampaikan tausiyahnya. Wasiat dari sultan disampaikan dihadapan rakyatnya. Di antaranya, beliau menitipkan anak-anaknya kepada Sultan Tidore. Beliau juga berpesan agar semua anak-anak dan rakyatnya bersatu. “Cukup sudah tahun-tahun sebelumnya menjadi tahun penuh ujian bagi kesultanan Ternate. Jangan kita biarkan kesultanan ini mau diperdaya dan dipecah belah oleh pihak luar” Pesan sang mufti. Beliau juga menyampaikan wasiat yang lainnya bahwa Sultan Mudaffar Syah adalah Sultan yang memegang prinsip Keislaman berlandaskan pemahaman ahlus sunnah wal jama’ah sehingga beliau meminta agar setelah mangkatnya segera ditunjuk pengganti beliau layaknya penunjukkan Abu Bakar pasca wafatnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salaam. Tausiyah kemudian ditutup dengan doa.

Iring-iringan jenazah pun menuju Sigi Lamo (Masjid Kesultanan Ternate) yang tak jauh dari Kadaton, untuk di sholatkan dan selanjutnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Sultan di belakang masjid tersebut, berdekatan dengan makam sang Ayah, Iskandar Djabir Sjah, Sultan Ternate ke-47.

Selamat Jalan Khalifah Turrasid Wa Tubadirrasul Sirajul Mulki Amiruddini Maulana Sultan Ternate Kolano Moloku Kie Raha Drs. Alhajji Mudaffar Sjah, M.Si.


Husnul khatimaah.

Senin, 15 Desember 2014

Jelajah Mahakarya Indonesia

THS mendapat kunjungan rombongan Jelajah jalur rempah, Mahakarya Indonesia pada 8 Desember 2014. Rombongan yang terdiri atas Fotografer, wartawan, blogger dan sejarawan JJ. Rizal ini mengunjungi Ternate dan Tidore untuk menyaksikan sisa-sisa peninggalan sejarah dan budaya. Selama di Ternate, rombongan ini ditemani oleh Bongky dari THS. Berikut catatan perjalanan yang ditulis oleh Bongky:

Catatan Perjalanan

Persembahan Mahakarya untuk Mahakarya

Beradab-abad lalu, Maluku Utara dikenal sebagai penghasil rempah yang kemudian membawa banyak perubahan di dunia. Mulai dari Colombus yang tersesat dan menemukan benua Amerika, hingga Alfred Russel Walace yang menulis Letter from Ternate kepada sahabatnya Charles Darwin, yang kemudian melahirkan Teori Evolusi.

Negeri Kepulauan ini dulunya dikenal dengan nama Moloku Kie Raha (Moloku = Maluku; Kie = Gunung; Raha = empat). Dinamakan demikian karena terdapat empat kesultanan yakni Ternate, Tidore, Bacan (dahulunya bertempat di Pulau Makian) dan Jailolo (dahulunya bertempat di Pulau Moti). Dari empat wilayah kesultanan inilah bangsa-bangsa timur dan eropa membawa cengkeh, pala, untuk dijual dengan nilai yang tinggi –saat itu nilainya lebih mahal dari emas. Menurut sejarawan JJ Rizal, memiliki cengkeh di eropa saat itu juga adalah tanda kebangsawanan.

Menelusuri Jejak Rempah
Masih tercium aroma tanah yang basah ketika 18 orang dari rombongan Mahakarya Indonesia yang terdiri dari blogger, wartawan, sejarawan, dan pemerhati budaya menapaki jalan setapak kecil menuju cengkih afo 2 (afo artinya tua, dalam bahasa Ternate). Bertempat di ketinggian ±500 mdpl, di kampung Tongole, atau dikenal juga dengan nama kawasan air tege-tege (air yang menetes) di Kelurahan Marikurubu Kota Ternate, Cengkih ini konon adalah cengkeh tertua di dunia. Umurnya sudah dua abad. Cengkih afo 1 yang berumur sekitar empat abad, sudah lama mati. lokasinya berada di atas cengkeh ini.

Berada di dekat Cengkeh Afo, dikelilingi cengkeh lainnya yang berumur sekitar 20 – 30 tahun, rombongan mahakarya berbincang soal bagaimana Portugis dan Spanyol berlomba memperebutkan wilayah ini. Dan kemudian berakhir pada monopoli perdagangan Belanda.


Dari cengkih afo, rombongan kemudian menuju benteng Kastela (Nostra Senora del Rosario). Benteng tertua di Indonesia ini dibangun oleh Potugis. Awalnya dibangun oleh Antonio de Brito pada tahun 1522, kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriques tahun 1525 dan pada tahun 1530 oleh Gonzalo Pereira, lalu diselesaikan oleh Wali Negeri ke delapan Jorge de Gastro pada tahun 1540. Di benteng inilah perlawanan rakyat atas penjajahan bangsa asing bermula. Berawal dari suatu malam di tanggal 27 Februari 1570, Sultan Khairun diundang makan malam dan kemudian dibunuh pada jamuan makan malam itu oleh Antonio Pimental, atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mosquita.Dari peristiwa itu, Sultan Baabullah (1570 – 1583), putra Sultan Khairun, memimpin perjuangan rakyat melawan Portugis, yang akhirnya angkat kaki pada tahun 1575.

Matahari telah condong beberapa derajat ke barat ketika kami putuskan untuk makan siang dan istirahat sejenak di kelurahan Ngade. Sajian siang ini mulai dari kuliner tradisional, sampai pemandangan uang seribu rupiah. Selain itu, bagian depannya terdapat salahsatu Benteng peninggalan Portugis.

Setelah makan siang di kawasan benteng Kota Janji (Santo Pedro, Portugis), kami kemudian menuju Benteng Toluko. Benteng Portugis yang awalnya dibangun oleh Francisco Serao pada tahun 1540 dan kemudian direnovasi oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1610 ini bentuknya menyerupai kelamin laki-laki. Benteng ini juga sering disebut benteng Holandia. Sultan Madarsyah pernah menempati benteng ini pada tahun 1661.

Dari benteng Toluko, rombongan kemudian menuju Kadaton Sultan Ternate di Kelurahan Soasio. Lokasi kedaton Sultan Ternate awalnya bertempat di Kelurahan Foramadiahi. Di depan Kadaton, terdapat dua lapangan, sunyie ici (lapangan kecil) dan sunyie lamo (lapangan besar). Sebelah kiri lapangan terdapat mata air Ake Santosa. Di samping kiri bagian belakang kadaton, terdapat benteng Naka. Benteng Belanda yang dibangun pada abad ke-18 ini bertujuan untuk mengawasi gerak-gerik sultan dalam mengatur pemerintahannya.

Kemudian rombongan mengunjungi rumah Alfred Russel Walace di Kelurahan Santiong. Rumah ini ditetapkan oleh Syamsir Andili, Walikota Ternate saat itu, sebagai rumah yang pernah ditempati Walace, sewaktu sang naturalis itu melakukan penelitiannya di Maluku Utara. Dan sampai saat ini, masih terjadi perdebatan tentang dimana sebenarnya rumah Walace tersebut.

Persinggahan terakhir kami di hari itu adalah Benteng Kalamata. Benteng Portugis ini dibangun pada tahun 1540 oleh Pigafetta, kemudian dipugar oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1609. Benteng ini pernah dikosongkan dan kemudian diduduki oleh Spanyol hingga tahun 1663. Pada tahun 1799, Mayor Von Lutnow memperbaiki kembali benteng ini. Nama benteng Kalamata diambil dari nama seorang pangeran Ternate yang meninggal di Makassar pada bulan maret 1676.


Di benteng Kalamata ini, rombongan menikmati tarian soya-soya dengan latar Pulau Maitara, Tidore dan Halmahera. Tarian soya-soya adalah tarian yang diinspirasi dari kisah perjuangan rakyat Ternate yang dipimpin Sultan Baabullah saat menyerang benteng Kastela.


Foto bersama peserta  jelajah Mahakarya Indonesia dengan latar belakang Pohon "Cengke Afo" (Pohon Cengkeh Tertua di Dunia) 
Sejarawan JJ. Rizal sedang menceritakan Sejarah Rempah, Cengkeh dan Pala, di perkebunan Cengkeh dan Pala Aer Tege-tege, Ternate.

Bongky sedang bercerita tentang Cengkeh dan Pala kepada peserta jelajah Mahakarya Indonesia



Peserta jelajah Mahakarya Indonesia di benteng Tolukko

Foto Benteng Tolukko oleh salah satu peserta Jelajah Mahakarya Indonesia, Barry Kusuma.

Peserta jelajah Mahakarya Indonesia mengunjungi Kadaton Sultan Ternate

Kadaton Sultan Ternate dengan latar belakang Gunung Gamalama (foto oleh salah satu peserta Jelajah Mahakarya Indonesia, Barry Kusuma)

menikmati sajian kuliner pusaka Ternate, Popeda dan teman-temannya.

Peserta jelajah Mahakarya Indonesia menikmati tarian Soya-soya di dalam benteng Kalamata.

Foto bersama di atas Ferry menuju ke Tidore, dengan latar belakang pulau Ternate.

peserta jelajah Mahakarya Indonesia disambut oleh Sultan Tidore dan pemangku adat di Kadaton Sultan Tidore

Kadaton Sultan Tidore (Foto oleh salah satu peserta jelajah Mahakarya Indonesia, Barry Kusuma)

ziarah ke makam Sultan Nuku di Tidore.

Senin, 22 April 2013

-LIPUTAN- Diskusi Pusaka: Antara Pelestarian Pusaka dan Pembangunan (Memperingati Hari Pusaka Dunia 18 April 2013)


Naskah: Amako & Bongky
Foto: Rio & Bongky

Diskusi Pusaka, dengan tema  Antara Pelestarian Pusaka dan Pembangunan, dilaksanakan oleh Ternate Heritage Society (THS) tepat pada Hari Pusaka Dunia, 18 April 2013, bekerjasama dengan LITERA Institute, salah satu lembaga yang fokus pada isu pendidikan, dan juga memiliki visi terkait pelestarian pusaka, pada bidang seni-budaya nya.

Tema diskusi pusaka tersebut lahir dari pembacaan kami terkait Propinsi Maluku Utara yang merupakan salahsatu wilayah di Indonesia, yang pusakanya belum dijaga dan dikelola dengan maksimal. Bahkan banyak diantara pusaka-pusaka tersebut yang hilang, ada yang rusak oleh alam dan manusia, dan ada juga yang kini terancam hancur. Banyak kasus yang telah diadvokasi oleh para pemerhati pusaka di Maluku Utara, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Walaupun upaya pelestarian pusaka yang dilakukan belum terlalu maksimal, karena masih selalu saja muncul kasus baru.

Khusus di Kota Ternate, kasus benteng-benteng masih menjadi isu utama. Dan yang menjadi soal adalah karena usaha pelestarian pusaka di Kota Ternate, lebih banyak berhadapan dengan kebijakan pembangunan Pemerintah Kota. Walaupun ada juga masalah yang langsung berhadapan dengan masyarakat sebagai pemilik pribadi pusaka, seperti rumah dan lainnya, yang belum memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara menjaga/merawat dan melestarikan pusaka mereka.

Dalam persiapan Diskusi Pusaka tersebut, kami menghubungi beberapa orang dan meminta menjadi pembicara diskusi. Tetapi beberapa diantaranya tidak dapat menghadiri diskusi, seperti Bapak La Ode Aksa – Kepala BPCB Ternate, yang kala itu sedang berada di luar Ternate. Dan juga Bapak Mochtar – Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Ternate, yang awalnya bersedia menghadiri dan menjadi pembicara, tapi pada menjelang diskusi dimulai, beliau mengkonfirmasi tidak bisa hadir.

Akhirnya pada 18 April 2013, pukul 16.05 WIT, bertempat di lantai dua Perpustakaan NBC Litera, Jalan K. H. Achmad Dahlan, Kelurahan Sasa, Depan Kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, diskusi dimulai dengan pertunjukan musik oleh komunitas TAKI. Setelah memainkan tiga lagu, diskusi pun dibuka oleh Asrul sebagai Moderator, dengan pembicara Bapak Maman – Arkeolog / Dosen fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate, Bapak Mamat Jalil – Pemerhati Pusaka dari Komunitas Matahati, yang juga Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate, dan Bongky dari THS. Dengan peserta diskusi sebanyak 47 orang, yang berasal dari berbagai komunitas pelestari pusaka, media, kelompok mahasiswa, dan satu orang utusan dari SMU Negeri 2 Kota Ternate.

Pak Mamat Jalil, sebagai pembicara pertama, membuka pemaparannya dengan mengatakan bahwa seharusnya diskusi ini dihadiri oleh pihak pemerintah, agar apa yang menjadi topik dan tawaran solusi dari diskusi ini, bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk kebijakan atau rencana kerja pemerintah menyangkut pelestarian pusaka. Beliau juga menyatakan bahwa perlu adanya peran dari pemerintah maupun masyarakat dalam upaya pelestarian pusaka.

Lebih lanjut Pak Mamat Jalil mengatakan Kota Ternate termasuk salahsatu kota pusaka di Indonesia dengan berbagai macam pusaka yang dimiliki, baik pusaka alam, pusaka budaya berwujud maupun tak berwujud. Namun kepedulian untuk menjaga pusaka itu sendiri masih sangat minim baik dari pemerintah daerah maupun dari masyarakat setempat. Pak Mamat memberikan beberapa contoh terkait kasus-kasus yang berkaitan dengan pusaka di kota Ternate. Misalnya, pendirian museum di samping kedaton kesultanan Ternate yang didirikan oleh Pemerintah Kota Ternate yang menuai banyak kontroversi dari berbagai kalangan. Padahal kedaton sendiri sudah sejak lama dijadikan sebagai museum Kota Ternate. Yang diperlukan adalah bagaimana manajemen pengelolaan kedaton tersebut, bukan membangun baru, yang itu juga kemudian mengganggu situs pusaka di dekatnya.

Contoh lain yang diberikan oleh Pak Mamat adalah kondisi benteng-benteng yang ada di Kota Ternate. Banyaknya penduduk yang mendirikan bangunan maupun yang tinggal di dalam bangunan benteng Oranje, yang lokasinya berada tepat di pusat Kota Ternate. Sampah yang dibuang sembarang di lokasi benteng sehingga terlihat sangat kumuh. Kesulitan pemerintah adalah bagaimana harus memindahkan penduduk yang bermukim dalam lokasi benteng ketika diadakan pemugaran benteng. Bahkan orang Belanda menertawai model pelestarian pusaka yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Dari berbagai macam pertimbangan yang terjadi, yang terpenting sekarang adalah bagaimana dari berbagai elemen berkumpul melakukan aksi, mencari model dalam melestarikan, mempertahankan dan menjaga kekayaan pusaka yang dimiliki oleh Maluku Utara bukan mengabaikan pusaka tersebut.

Tak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh Pak Mamat, pembicara kedua pun turut mengiyakan apa yang disampaikan mengenai kondisi cagar budaya maupun pusaka di Maluku Utara. Menurut Pak Maman, sudah 30 tahun sejak tanggal 18 April dijadikan sebagai Hari Pusaka Sedunia pada tahun 1983, namun kita belum juga dewasa dalam upaya melestarikan pusaka di Indonesia terutama di Maluku Utara. Menurut UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya disitu diatur mengenai pelestarian cagar budaya, namun lagi-lagi menurut pak Maman kegiatan pelestarian itu masih minim dilakukan.

Beliau juga memberikan contoh kondisi benteng di Maluku Utara yang tidak terurus oleh pemerintah. Contohnya, kondisi Benteng Kastela yang mengalami dua kali roboh sejak di pugar tahun 2005 dan 2006. Ditambah lagi dengan tindakan masyarakat sekitar yang mengambil bebatuan reruntuhan benteng untuk dijadikan bahan bangunan rumah mereka. Benteng Tahua di Tidore pun kelihatan memiliki potensi akan roboh. Dan kita cenderung diam saja melihat kondisi tersebut. Menurut Pak Maman, bagaimana kita mau melestarikan kalau tidak ada penelitian sebelumnya? Bagaimana juga dengan manajemen sumber daya budaya kita? Pemerintah Kota Ternate akan merencanakan memugar benteng oranje dan juga didalam DED, akan dibangun menara air di situ. Akan dilakukan penggalian untuk pondasi menara air. Yang menjadi pertanyaan apakah dibenarkan menggali di sekitar situs budaya? Untuk perencanaan pelestarian pusaka perlu ada kerja yang sinergis antara antropolog, arkeolog dan arsitek. Undang-undang tentang cagar budaya sudah dua tahun lebih dibuat, namun belum juga muncul peraturan pemerintah. Akibatnya ini membuat kreatif para investor untuk merusak bangunan-bangunan cagar budaya. Kalau itu sampai terjadi, maka apa yang akan kita bayangkan tentang bukti-bukti peradaban kita? Oleh karena itu peraturan pemerintahlah yang diperlukan sekarang. Terutama dalam hal ketetapan untuk mengakui sesuatu yang dianggap cagar budaya. Jika tidak, maka aktifitas masyarakat atau investor menghancurkan cagar budaya kita akan semakin marak. Saat ini sedang dibahas RUU tentang kebudayaan, dan ini mungkin akan menjadi perdebatan lagi dari setiap kalangan.

Pak Maman menghimbau agar sebelum semuanya hilang, mari kita lestarikan pusaka kebudayaan kita. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mendapatkan kata “katanya” saja tentang peninggalan budaya kita. Turut andil dalam pelestarian pusaka adalah sebuah kewajiban, karena pusaka adalah warisan. Terlepas dari ada atau tidaknya UU atau PP, namun kita perlu memiliki satu keseragaman dalam pemikiran. Pelestarian pusaka harus menjadi orientasi kita bersama sebelum semuanya lari ke luar negeri. Contoh kasus pengklaiman kepemilikan terhadap tarian reog Ponorogo dan batik oleh Malaysia.

Tema hari pusaka tahun ini adalah pusaka untuk kesejahteraan rakyat. Kualitas kesejahteraan seperti apa yang kita harapkan? Sejahtera secara psikologis? Sejahtera secara ekonomi? Tapi apakah sejahtera secara batiniah itu kita dapatkan? Pak Mamat memberi komentar lucu “tanyakan kepada para koruptor”.

Artinya perlindungan bagi kelestarian pusaka itu yang kita usahakan. Ada hak warga Negara untuk melestarikan pusaka tersebut. Tetapi yang penting pusaka-pusaka ini bernilai penting terutama bagi pendidikan anak bangsa kita. Secara teknologi, kita bisa belajar bagaimana manusia zaman dulu membangun dan menciptakan bangunan-bangunan tersebut. Ini adalah gudang ilmu dan ini berguna bagi pengetahuan masyarakat kita.

Pak Maman memberikan sedikit pengetahuan mengenai peninggalan Hindu di Ternate. Ada Arca Dewi Parwati yang diperkirakan berasal dari abad ke-14, yang kini tersimpan di museum siwa lima Ambon. Arca ini di temukan saat pembangunan bandara Sultan Baabullah Ternate, di tahun 1987. Begitu juga di Halmahera utara dan Halmahera timur banyak sekali bukti-bukti peninggalan peradaban nenek moyang kita ribuan tahun lalu seperti ditemukannya arca-arca. Keberagaman seperti inilah yang ingin diajak kepada kita semua. Melalui pelestarian pusaka ini dapat kita ciptakan inovasi-inovasi yang baik bagi pembangunan Indonesia kedepan.

Sebelum memberikan kesempatan kepada peserta diskusi untuk bertanya atau menanggapi, Asrul sebagai moderator memberi kesempatan lebih dulu kepada Bongky selaku pembicara ke-3 untuk memaparkan penjelasannya:

Hari ini seluruh dunia merayakan Hari Pusaka Dunia. Di Indonesia ada lebih dari 40 event yang diselenggarakan untuk memperingati hari pusaka dunia, yang salah satunya adalah diskusi yang saat ini kita ikuti. Ini adalah event kita bersama, dan kebetulan kali ini kami yang memfasilitasi. Demikian Bongky memulai pembicaraannya. Selanjutnya menurut Bongky, bahwa gerakan pelestarian pusaka di Indonesia belum membuahkan hasil yang maksimal. Dari sejak ditetapkannya undang-undang Cagar Budaya hingga hari ini, belum ada aturan turunan yang lebih teknis membahas pelestarian cagar budaya. Indonesia termasuk salahsatu Negara yang masih riskan ketika kita bicara tentang pelestarian pusaka. Mulai dari Aceh sampai Papua tidak banyak pusaka yang bisa dilestarikan. Banyak juga program pemerintah yang berdampak langsung maupun tak langsung pada pusaka di Indonesia. Bahwa ketika DED benteng Oranje dibahas, seharusnya pemerintah menyediakan forum tersebut untuk meminta tanggapan dari pihak-pihak terkait. Tapi tak ada satu pun dari kalangan akademisi atau pihak terkait lainnya diundang.

Bongky juga mengatakan, ketika bulan Oktober 2012 lalu, Pemerintah Kota Ternate yang juga adalah anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), ikut menandatangani MoU pelestarian pusaka pada Rakerjas JKPI di Surabaya, ternyata komitmen itu hanyalah bohong belaka, karena tidak ada implementasi dari semangat Mou tersebut. Bongky juga menyatakan bahwa ternyata frame berpikir pemerintah daerah di Maluku Utara masih jauh dari upaya pelestarian pusaka. Ketika di banyak kesempatan dan di berbagai media Pemerintah Kota Ternate menyatakan yang paling peduli dengan pelestarian pusaka, maka kita bisa melihat contoh bentuk kepedulian mereka itu dari kondisi benteng-benteng di Ternate. Dia menambahkan, bahwa sistim zonasi yang ditetapkan pada setiap situs pusaka pun tak pernah jelas. Sebagai contoh, Benteng Kalamata dan Benteng Oranje.

Saat ini sudah ada anak muda yang mulai peduli terhadap pelestarian pusaka, seperti mulai membiasakan berbicara dan mengkaji soal bahasa Ternate, bahasa Tidore, dan lain-lain. Namun Bongky melontarkan pertanyaan apakah kesadaran itu hanya sampai pada komunitas-komunitas muda tersebut? Apakah event hari ini hanya sebatas pada pengetahuan apa itu pusaka saja? Lalu apa yang harus kita lakukan terhadap pelestarian pusaka di Maluku Utara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus kita jawab secara bersama.

Suasana diskusi pusaka hari ini munai nampak serius. Dan untuk menghilangkan ketegangan tersebut, di sela-sela diskusi, moderator memberikan kesempatan kepada kelompok seni yang hadir pada saat itu untuk mementaskan 3 lagu hasil karya mereka. Dan Cenge-cenge adalah judul lagu yang pertama kali dibawakan oleh kelompok seni bernama Taki itu. Sedikit memberi referensi bahwa Cenge-cenge adalah permainan tradisional anak-anak Maluku utara, yang saat ini sudah hampir tidak ada lagi anak-anak yang memainkannya. Dan suasana diskusi lebih meriah, ketika Pak Maman ikut menyumbangkan lagu yang kemudian dikolaborasikan dengan pembacaan puisi oleh Pak Mamat.

Setelah menikmati beberapa persembahan karya seni, diskusi dilanjutkan dengan memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya atau menanggapi apa yang sudah dipaparkan oleh ketiga pembicara tersebut.

Kesempatan pertama diberikan kepada Miron dari komunitas Taki, yang juga mahasiswa fakultas sastra dan budaya Universitas Khairun Ternate. Miron bertanya tentang pembangunan Water Boom yang disetujui oleh pemerintah kota Ternate. Yang membuat dia bingung adalah Water Boom itu dibangun berada tepat disamping benteng Kalamata, yang juga termasuk salahsatu situs budaya di Ternate. Menurutnya, apakah pemerintah Ternate benar-benar tidak tahu atau memang sengaja membangun yang kemudian berpotensi merusak situs pusaka di sampingnya?. Apa strategi yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini? Sementara dinas kebudayaan dan pariwisata Kota Ternate sendiri cenderung cuek dan tidak melakukan apa-apa terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah daerahnya sendiri.

Selanjutnya kesempatan kedua, diberikan kepada Fahrizal alias Chalo. Menurutnya, bicara soal pusaka alam, disitu ada bumi, hutan, tanah, air, dan unsur-unsur lainnya. Sementara Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikeluarkan semakin meningkat setiap tahun. Fakta dilapangan yang kami temukan, ketika sebuah investasi skala massif masuk ke sebuah daerah, maka akan mempengaruhi kearifan lokal masyarakat tempatan, seperti gotong royong dan segala cipta, rasa dan karya masyarakat lokal atau peninggalan nenek moyang kita hilang atau musnah. Bagaimana pemerintah melihat ini?

Penanya ketiga bernama Astuti, memberikan tanggapan maupun pertanyaan tak jauh beda dengan Miron dan Chalo. Terkait pusaka alam di Maluku Utara, menurutnya bahwa pengerukan sumber daya alam yang terus terjadi dilakukan oleh investasi skala massif justru menghancurkan pusaka alam di Maluku Utara, maupun Indonesia secara keseluruhan. Pusaka budaya yang tidak berwujud pun mulai hilang. Lalu gerakan seperti apa yang harus kita buat dalam menjaga dan melestarikan pusaka ini? Sementara Indonesia sudah menghasilkan kebijakan dan aturan terkait ini. Namun hasilnya masih nol. Bahkan dinas-dinas terkaitpun malah campur tangan dalam penghancuran terhadap pusaka-pusaka tersebut. Demikian Astuti mengakhiri pertanyaannya.

Pak Maman memberi komentar menarik bahwa ini adalah bukti para pelestari itu ada. Bukan saja sekedar ada tapi “mengada”. Sementara itu beliau juga menjawab pertanyaan mengenai aktifitas pembangunan yang dilakukan pemerintah, serta aktifitas pertambangan di Maluku utara yang turut andil memberi kerusakan bagi cagar budaya baik itu pusaka alam maupun pusaka budaya yang berwujud dan tak berwujud. Terkait pembangunan waterboom, mereka pernah bertanya kepada Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda), ternyata kelihatan tidak ada perencanaan yang baik pada proyek tersebut. Jadi mereka menginisiasi membuat sendiri zonasi disitu, walaupun masih dalam skala mikro. Kelihatan nyata bahwa benteng Kalamata sudah terjepit. Ada rumah pribadi warga yang didirikan tepat disamping benteng. Waterboom selain dibangun diatas lahan yang sudah ada, ternyata mereka juga melakukan mereklamasi disitu. Ini bisa berdampak kerusakan pada dinding-dinding benteng ketika terjadi abrasi.

Selanjutnya soal lahan konsesi PT. Weda By Nikel (WBN), disitu ada peradaban nenek moyang kita. Ada kawasan bentang alam karts yang memiliki potensi ketersediaan atau penampung air yang juga memiliki peninggalan peradaban masa lalu. Jikalau potensi penyimpanan air itu hilang, maka sumber air di Halmahera pun akan berkurang. Selain itu, di Kawasi, ada benteng peninggalan Belanda yang sudah habis digilas akibat pembangunan jalan menuju lokasi pertambangan. Tentang pusaka untangible, menurutnya ini memang realita yang terjadi di Negara-negara berkembang. Jangankan yang sudah tergusur, yang belum tergusur pun sudah hilang. Contohnya seperti gotong royong, sopan santun, kepatuhan, etika, dan lain-lain.

Hubungan antara pelestarian pusaka dengan pembangunan, yang jelas bagi kepentingan ekonomi bisa mendatangkan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu, daya cipta kreasi kita telah terselamatkan dan telah terlestarikan. Maka gerakan apa yang bisa kita kerjakan bersama? Bagaimana cara kita membangun dan menyebarkan virus-virus kesadaran ini ke semuanya?

Pak Maman menjawab sendiri pertanyaannya tersebut, yakni melalui pengajaran kepada Sekolah-sekolah dasar. Ini yang menjadi awal pelestarian pusaka kita. Substansinya ada di Sekolah dasar ini. Kita perkenalkan tentang jati diri, nilai-nilai dan pusaka-pusaka milik Indonesia. Upaya-upaya ini akan jauh lebih berguna untuk masa depan. Kalau belum dilakukan sekarang, maka ayo kita bergerak bersama.

Beliau juga menceritakan pengalaman dua bulan lalu ketika secara kebetulan iseng mengamen dari SD ke SD tanpa mengharapkan imbalan apapun. Tujuannya hanya ingin meninggalkan jejak disitu. Ngamennya dalam bentuk mendongeng. Mengajarkan nilai-nilai moral dari dongeng-dongeng itu. upaya-upaya seperti ini selayaknya harus kita pikirkan bersama. Mengajarkan segala sesuatu yang berguna apapun itu dalam bentuk apapun sepanjang itu tidak menghancurkan. Lalu, sudahkan itu kita kerjakan? Kalau belum, Ayo kita sama-sama kerjakan. Demikian, himbauan dilontarkan oleh Pak Maman kepada 40-an peserta yang hadir saat itu.

Sedangkan untuk Pak Mamat, beliau menanggapi bahwa sebenarnya pemerintah tidak memberi ruang kepada lembaga-lembaga yang berkonsentrasi pada pelestarian pusaka, sehingga pembangunan benteng Kalamata pun sembarangan. Dan yang dibangun dekat dengan benteng tersebut tidak memberikan manfaat apa-apa kepada anak-anak kita yang biasa hidup dan bermain di laut. Ketika menteri kebudayaan datang ke Benteng Oranje, kita tidak diberi ruang, malah dituding sengaja mempertahankan asset Belanda. Di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur banyak persoalan tambang, seperti di Bicoli, terdapat aktifitas penambangan bahan pembuat pesawat. Dan kebanyakan wilayah aktifitas kebudayaan masyarakat setempat masuk pada wilayah pertambangan.

Kami sudah menyoroti soal peninggalan-peninggalan itu. Kami dari Matahati, bersama-sama dengan THS dan kelompok pelestari lainnya, sudah banyak melakukan upaya-upaya ini. Pertanyaannya, apakah dinas terkait akan memberikan peluang bagi para pemerhati pusaka? Menurutnya, perlu ada lembaga yang mengidentifikasi pusaka yang ada di Ternate. Juga perlu melakukan kajian mendalam terkait pusaka, yang ini dapat jadi rekomendasi untuk melahirkan Peraturan Pemerintah.

Bongky juga memberikan jawaban terkait pembangunan Water Boom disamping benteng Kalamata. Menurutnya, memang kita tidak punya kekuatan yang besar untuk melawan ini. Saat ini pemerintah masih memiliki tangan yang kuat. Tetapi pusaka bisa menjadi senjata yang kuat untuk meneriakkan kepada dunia internasional bahwa di sini juga ada yang perlu dijaga. Bongky juga mengatakan, perlu adanya konsolidasi di tingkat pelestari pusaka. Kalau ide gerakan belum bisa menyatukan kita, mungkin kita bisa gunakan satu objek pusaka sebagai pemicu awal konsolidasi gerakan pelestarian pusaka. "Saya juga sepakat dengan Pak Maman, untuk saat ini jangan kita bertanya bagaimana kita melakukannya, tapi sudahkah kita melakukannya?”, ungkap Bongky dengan penuh semangat.

Di sesi terakhir diskusi ini masih ada beberapa orang peserta lagi yang ingin mengutarakan pendapatnya. Cecep, misalnya mengutarakan perlu adanya model kampanye yang pas agar pusaka tetap lestari. Penting juga menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam pusaka maupun cagar budaya. Interkoneksi antara apa yang sudah dibahas dengan aksi praksis juga harus tetap dilakukan. Terakhir dia mengutip kata Condera, bahwa perjuangan kita sesungguhnya adalah “melawan lupa”.

Selain itu ada juga Cakra dari PMII yang mengawali komentarnya dengan mengucapkan “Selamat Hari Pusaka Sedunia”. Dia menghimbau agar jangan selalu menyalahkan pemerintah saja, namun sejauh mana gerakan pemuda selama ini dalam melestarikan pusaka di Maluku Utara.

Seorang Pamong Budaya yang hadir pada diskusi ini juga memberikan saran agar kita memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan pusaka agar menjadi asset bagi anak cucu kita nanti. Karena berdasarkan pengalamannya di lapangan saat mengerjakan pendataan kebudayaan, banyak masyarakat yang tingkat pemahamannya masih rendah. Sementara pemerintah dan pemuda mendesak harus melestarikan kebudayaan kita.

Satu hal yang menarik adalah ajakan dari Ina Daeng Barang, perwakilan dari Radio Diahi FM. Ina mengajak lebih bersifat action dalam gerakan pelestarian pusaka ini. Di radio RRI dan radio DIAHI ada program cerita rakyat untuk anak-anak dan Ina mengajak peserta diskusi untuk bergabung dan terlibat bersama dalam acara tersebut yang dilaksanakan setiap hari minggu.

Menurut Pak Mamat, aset Cagar Budaya itu disyaratkan oleh undang-undang dimiliki oleh Negara dan masyarakat. Untuk pemugaran dan pembangunan itu masuk dalam zona pemerintah. Tapi ada juga zona masyarakat, namun pemerintah tidak memberikan apa-apa. Contohnya, jika pemugaran Benteng Oranje dilakukan, apakah pemerintah akan memberikan ruang kepada masyarakat untuk memberikan tanggapan? Yang selama ini membuat kita kaget adalah ketika sudah membangun baru kemudian diketahui oleh masyarakat. Untuk perhatian di asset kebudayaan ini menurutnya bukan hanya turun ke jalan saja. Namun, kita harus melakukan penelitian, mengidentifikasi apa saja yang dimiliki oleh masyarakat. Dan kita bisa bertindak cepat sebelum semua itu dihilangkan oleh pemerintah.

Sedangkan Bongky menanggapi ketiga pertanyaan tersebut dengan melihat bagaimana benteng atau pusaka tersebut dari satu sisi. Menurutnya, banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari benteng. Dia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Cecep bahwa ada nilai yang bisa diambil dari cerita benteng-benteng tersebut. Dan menurutnya juga masih banyak hal lain yang lebih menarik dari pusaka-pusaka tersebut. Dia juga mengatakan bahwa memang kita tidak harus selalu menyalahkan pemerintah, tapi juga hal ini harus diinformasikan kepada masyarakat sebagai pemilik agar memiliki pemahaman. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, agar masyarakat bisa mengetahui bagaimana menjaga, mengelola dan melestarikan pusaka.

Menanggapi pertanyaan maupun saran dari para penanya sesi terakhir, Pak Maman mengatakan  bahwa memang selama ini kita tidak menampilkan latar belakang sejarah dimasing-masing cagar budaya yang dimiliki. Menurutnya, pekerjaan-pekerjaan seperti ini sangat mungkin dilakukan terus menerus agar bisa diteruskan kepada masyarakat luas. Ini adalah pekerjaan untuk kebudayaan dan kejayaan daerah. Dan peringatan hari pusaka ini merupakan upaya pelestarian terhadap pusaka. Ajakannya adalah Ayo kita turun ke masyarakat untuk melakukan gathering mendiskusikan ini secara bersama. Namun bagaimana jika menurut masyarakat pusaka tersebut tidak penting? Ini yang menjadi masalah bagi kita. Dua bulan lagi akan ada hari purbakala. Kita semua punya hak berbudaya dalam upaya memenuhi kualitas bangsa, untuk menjadikan bangsa ini adil. Maka dari itu dari beberapa moment kita bisa duduk bersama, tidak hanya saling menyalahkan, tidak hanya berkeluh kesah, tapi harus berani mengajukan saran. Kongkritnya adalah tidak hanya sekedar bercerita. Demikian Pak Maman memberikan jawaban sebagai penutup pada diskusi Hari Pusaka Dunia kali ini.

Ternate Heritage Society mengucapkan Terima kasih kepada Litera Institute dan semua pihak terutama peserta diskusi yang telah hadir dan menyemarakkan peringatan Hari Pusaka Dunia di Ternate. Semoga semangat kepedulian, kecintaan dan kebersamaan akan semakin menguat untuk kegiatan-kegiatan Pelestarian Pusaka berikutnya.

Selamatkan Pusaka Ternate!!
Selamatkan Pusaka Indonesia!!

Salam Lestari!









Kamis, 18 April 2013

18 APRIL 2013: International Day for Monuments and Sites; Catatan Terhadap Pelestarian Situs dan Monumen di Ternate

Naskah oleh: Maulana


Hari ini diperingati dunia sebagai hari untuk Monumen dan Situs, atas usulan dari ICOMOS kepada UNESCO dan disetujui pada 1983. Di Indonesia, teman-teman Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia ramai merayakannya sebagai Hari Pusaka Dunia, dengan berbagai kegiatan secara serentak pada 18April ini, tidak terkecuali di Ternate, diperingati dengan Diskusi Pusaka dengan tema Antara Pelestarian Pusaka dan Pembangunan, yang diselenggarakanoleh Ternate Heritage Society dan Litera Institute.

Tulisan ini akan sedikit menceritakan kembali apa yang terjadi di Ternate dalam satu dekade terakhir ini, terkait pelestarian PusakaBendawi (Tangible Heritage) lebih khusus lagi tentang Monumen dan Situs.


       That your most illustrious Lordship may know the islands where the cloves grow;
       there are five of   them, namely Ternate, Tidore, Motir, Machian and Bacan.
       Ternate is the first and principal one.
       And when its king was alive he was master of nearly all others.
       Tidore was the island were we were which has its king as we said.
       All that province where cloves grow is named Molucca.
     
       (Laporan Antonio Pigafetta kepada Raja Spanyol, Carlos, 1522. 
        dikutip dari buku The Spice Island karya Ian Burnet, 2011)


Siapapun pasti kagum ketika membaca sejarah Ternate, terkait warisan budaya Kepulauan Rempah-rempah yang membuat berbagai bangsa-bangsa didunia berbondong-bondong mencari pulau-pulau ini, Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan sejak abad ke 16. Jauh sebelum itu, bangsa Cina dan Arab telah lebih dahulu menjelajah Kepulauan Rempah-rempah ini.
Akibat harta rempah-rempah inilah, kolonialisme bermula dari Ternate. Sejak permulaan abad ke-16 Portugis telah membangun sebuah kota dipulau ini dan Spanyol membangun benteng-bentengnya  di Tidore.

Sebuah benteng yang dikatakan kota di jaman tersebut, berdiri dengan kokohnya dikelilingi dinding tinggi membentuk pertahanan, bertetangga dengan pusat pemerintahan Kesultanan Ternate, Sampalo, di bagian selatan pulau Ternate. Kota ini dikenal dengan nama Nuestra Senora del Rosario, sebagai ungkapan rasa syukur dan puji-pujian mereka kepada perawan Maria, karena selainmotif menguasai perdagangan rempah (buah cengkeh dan bunga pala) Portugis juga dalam misi menyebarkan agama. Di dalam dinding-dinding ini, berdirilah hunianbangsa Portugis, Gereja, Sekolah, dan Gudang rempah-rempah dan perbekalan. Bahkan, pendeta terkenal Fransiscus Xaverius pernah mampir kesini dan menyebarkan pesan-pesan nya pada siswa-siswa di sekolah tersebut, kemudian melanjutkanperjalanan ke pulau Halmahera.

Di kota inilah, Sultan Khairun dibunuh dengan liciknya karena sejak awal menolak penjajahan, sehingga diajak berunding  yang berujung pada kematian. Anaknya, Sultan Baabullahpun berhasil mengusir Portugis dengan sangat memalukan di kota ini, dan sempat menjadikannya sebagai pusat pemerintahan. Dari lokasi dan fakta ini pula, harijadi kota Ternate ditentukan.

Belum diketahui pasti luas kota ini, karena hingga kini,belum ada penelitian mendalam khususnya dari teman-teman arkeologi tentang situs peninggalan kota kolonial pertama di Nusantara ini.
Situs bersejarah ini sekarang hanyalah tinggal puing-puing,yang tampak jelas adalah bekas dinding bangunan dan dinding pertahanan. Yang sudah mulai sesak dikerumuni pemukiman penduduk. Tidak bisa dipungkiri jikaTernate menjadi pesat perkembangannya dari sisi fisik, terutama pembangunan rumah yang mulai menjamur ke hampir seluruh bagian pulau.

Lantas apa yang sudah dilakukan oleh para pengambil kebijakanatas situs bersejarah ini? Pembangunan kembali beberapa dinding benteng dan membuat taman sudah dilakukan pada 2005-2008, yang menimbulkan protes dari berbagai pihak, karena kegiatan tersebut tidak didasari riset mendalam dan melibatkan tenaga ahli, sehingga terkesan proyek abal-abal dan mendandani kawasan tua dengan `kosmetik berlebihan`, bak nenek-nenek karismatik yang didandani ala belia.

Permasalahan ini sesungguhnya sering berulang-ulang terjadidi Negara kita, ketika pemerintah selalu merasa paham dan hanya melaksanakan program pembangunan dengan dalih pelestarian padahal yang dilakukan adalah justru merusak dan mengurangi nilai keaslian bangunan, situs, dan kawasan.
Lantas bagaimana nasib Sampalo sebagai pusat pemerintahan pertama Kesultanan Ternate yang hingga kini belum terlacak jejaknya? Sampalo sebagai saksi bisu masa kegemilangan dan kejayaan Kesultanan Ternate pun belum kunjung dilakukan penelitian mendalam.

Nasib yang sama dialami pula oleh situs dan bangunan bersejarah lainnya di Ternate, yaitu 6 buah benteng peninggalan portugis dan belanda serta kawasan Kadaton (Istana) Sultan Ternate yang sangat kaya akan bangunan bersejarah yang sudah disentuh oleh pemerintah dengan desain-desain yang malah mengurangi keaslian, nilai sejarah dan budayanya.

Bangunan-bangunan dan situs-situs bersejarah ini adalah aset berharga bagi anak cucu untuk dipelajari dan diambil maknanya. Pelestarian adalah kegiatan yang menyeluruh, bukan hanya fokus pada satu aspek saja yangselama ini selalu dilakukan oleh pemerintah.

Padahal, jika dilakukan prosesnya dengan baik akan memberi manfaat baik pula bagi semua pihak. Sebagai contoh, di Jepang ketika proses restorasi bangunan tua bersejarah dilakukan selain dengan kerja yang sangat professional kegiatan ini juga dibuka untuk publik. Masyarakat dapat melihat langsung kegiatan konstruksinya, disediakan tiket khusus bagi pengunjung. Ini adalah model pelestarian yang terpadu dengan pariwisata, menguntungkan semua pihak. Wisatawan dapat melihat langsung prosesnya, kontraktor pun merasa diawasi pekerjaannya langsung oleh publik.

Kembali ke permasalahan di Ternate, ketika situs dan monumen bersejarah sudah tidak dihargai oleh pemerintah dan masyarakatnya sendiri, lantas kita akan terus hidup tanpa identitas dan ciri khas? Buku dan naskah tentang kebesaran-kebesaran Ternate di masa lalu, hanyalah tinggal dongeng belaka ketika pembaca datang dan menyaksikan langsung kondisi Kota Ternate saat ini.

Ketika kota-kota di dunia mulai berlomba-lomba memunculkan atau menguatkan ciri melalui ‘penanda’ fisik (landmark) berupa bangunan, monumen atau situs, Ternate justru melupakan yang sudah dimilikinya  dan malah membangun yang baru dengan ambisi penguasa terkini  dan  latahnya desain.

Ternate hanya sepenggal kisah besar yang dimiliki Indonesia, namun menentukan tonggak awal sejarah bangsa. Penggalan-penggalan lainnya tersebar di seluruh penjuru Nusantara, menanti untuk diselamatkan.

Dan kita akan terus membiarkan ini terjadi?